ACEH – Di tengah derasnya arus kecerdasan buatan (AI) yang mengubah cara kita belajar dan berinteraksi, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh algoritma: rasa dan empati. Di sinilah karya sastra mengambil peran vitalnya. Melalui sastra, generasi muda bukan sekadar membaca kata-kata, melainkan belajar merawat kemanusiaan, mengasah empati, dan membangun karakter yang kokoh.
Lebih dari itu, sastra adalah “senjata diplomasi” yang menjaga martabat Bahasa Indonesia agar semakin diakui di panggung dunia.
Pesan kuat ini digaungkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, saat membuka Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV di Gedung Lembaga Wali Nanggroe, Banda Aceh. Kehadiran ratusan penyair dari 14 negara menjadi bukti sahih bahwa sastra Indonesia punya daya hidup luar biasa yang mampu melintasi batas geografis dan budaya.
“PPN ke-14 menjadi ruang penting untuk memperkuat jejaring sastra dan membangun kolaborasi kebudayaan lintas negara. Antusiasme peserta membuktikan bahwa karya sastra kita terus menjadi bagian penting dari kesusastraan dunia,” ujar Abdul Mu’ti.
Aceh dipilih sebagai tuan rumah bukan tanpa alasan. Wilayah ini punya jejak sejarah yang panjang sebagai pusat intelektualitas dan titik awal perkembangan sastra Melayu Nusantara. Di bumi Serambi Mekkah inilah, warisan budaya masa lalu dipertemukan langsung dengan tantangan kesusastraan di era digital.
Bagi Menteri Mu’ti, pendidikan yang bermutu tidak boleh melulu soal angka dan capaian akademik. Pendidikan yang paripurna harus mampu melahirkan:
Kepekaan sosial untuk menghargai perbedaan.
Imajinasi kreatif untuk berinovasi.
Karakter kuat sebagai fondasi kehidupan bersama.
Sastra juga menjadi motor penggerak yang memperkuat posisi Bahasa Indonesia di kancah internasional. Pengakuan Bahasa Indonesia di forum global seperti UNESCO tidak lepas dari jemari para sastrawan yang merawat bahasa melalui karya-karya mereka.
Dalam kesempatan ini, Mendikdasmen kembali mengajak masyarakat untuk menghidupkan konsep Trigatra Bangun Bahasa:
| Prioritas Utama | Langkah Nyata |
| Utamakan | Bahasa Indonesia (sebagai identitas nasional & dunia) |
| Lestarikan | Bahasa Daerah (sebagai kekayaan budaya) |
| Kuasai | Bahasa Asing (sebagai alat komunikasi global) |
Sebagai bentuk komitmen nyata, Kemendikdasmen meluncurkan berbagai program strategis, mulai dari menerbitkan majalah sastra nasional Liris sebagai wadah berkarya bagi guru dan murid, memberikan apresiasi kepada sastrawan senior, hingga memperkuat ekosistem komunitas sastra di daerah.
Semangat literasi ini bukan cuma narasi di atas panggung, tapi sudah mengakar hingga ke ruang kelas. Hal ini dibuktikan dengan pemberian penghargaan kepada Ainiah, Kepala UPTD SDN 1 Bireuen.
Melalui konsistensi program literasi mingguan, sekolah yang dipimpinnya sukses mengantarkan murid-murid berprestasi di tingkat nasional lewat ajang Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N). Di sekolah ini, membaca puisi, mendongeng, dan bercerita telah menjadi menu harian untuk membentuk karakter anak.
Mengusung tema “Puisi untuk Kemanusiaan, Dari Diksi ke Aksi”, PPN XIV dihadiri oleh 228 peserta dan berlangsung di empat wilayah di Aceh.
Pada akhirnya, festival ini mengirimkan pesan penting kepada dunia: puisi bukan sekadar barisan kata yang indah di atas kertas. Sastra adalah investasi kebudayaan jangka panjang yang membentuk manusia berkarakter, sekaligus menegaskan bahwa Bahasa Indonesia adalah bahasa yang dihormati di panggung dunia. (fa/fz)















