100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi Didorong Jadi Kota Perjuangan Indonesia

Bukittinggi – Peringatan 100 Tahun Jam Gadang memunculkan kembali peran besar Bukittinggi dalam sejarah Republik Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahkan menegaskan kota di jantung Minangkabau itu layak dikenal sebagai Kota Perjuangan karena kontribusinya yang besar dalam mempertahankan eksistensi Indonesia pada masa-masa kritis kemerdekaan. Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon saat membuka Seminar Internasional bertajuk Merajut Tenun…

Bukittinggi – Peringatan 100 Tahun Jam Gadang memunculkan kembali peran besar Bukittinggi dalam sejarah Republik Indonesia. Menteri Kebudayaan Fadli Zon bahkan menegaskan kota di jantung Minangkabau itu layak dikenal sebagai Kota Perjuangan karena kontribusinya yang besar dalam mempertahankan eksistensi Indonesia pada masa-masa kritis kemerdekaan.

Pernyataan itu disampaikan Fadli Zon saat membuka Seminar Internasional bertajuk Merajut Tenun Diplomasi antara Indonesia dan Belanda: Pergerakan Kemerdekaan hingga Repatriasi di Bukittinggi, Sabtu (20/6/2026).

Menurut Fadli, Bukittinggi bukan sekadar kota wisata yang identik dengan Jam Gadang. Kota ini melahirkan banyak tokoh penting bangsa dan menjadi salah satu pusat perjuangan Indonesia ketika negara menghadapi ancaman setelah Agresi Militer Belanda II pada 1948.

“Bukittinggi memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah perjuangan bangsa. Saya termasuk yang sejak lama mendorong agar Bukittinggi dikenal sebagai Kota Perjuangan karena peran historisnya yang sangat besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia,” kata Fadli.

Ia mengingatkan, Sumatra Barat dan Bukittinggi memiliki posisi strategis dalam sejarah Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI). Keberadaan PDRI menjadi penopang utama keberlangsungan negara ketika pemerintahan pusat mengalami tekanan akibat agresi militer Belanda.

Dalam kesempatan itu, Fadli juga menyinggung Jam Gadang yang tahun ini genap berusia satu abad. Menurut Fadli, bangunan ikonik tersebut bukan hanya penanda waktu, tetapi juga simbol perjalanan sejarah masyarakat Minangkabau.

Jam Gadang dibangun pada masa kolonial sebagai hadiah dari Ratu Wilhelmina kepada masyarakat Bukittinggi atas prakarsa Hendrik Ruhmacher. Menara itu dirancang arsitek Minangkabau, Yazid Rajo Mangkuto, dan mengalami beberapa perubahan bentuk hingga akhirnya menggunakan atap bergonjong yang menjadi identitas budaya Minangkabau.

Fadli menilai peringatan satu abad Jam Gadang menjadi momentum penting untuk melihat kembali hubungan Indonesia dan Belanda secara lebih utuh. Sejarah kedua bangsa, kata dia, tidak hanya berisi konflik dan perjuangan, tetapi juga proses dialog, rekonsiliasi, hingga kerja sama kebudayaan yang terus berkembang.

Salah satu bentuk kerja sama tersebut adalah program repatriasi atau pengembalian benda-benda budaya Indonesia dari Belanda dalam beberapa tahun terakhir. Program itu dinilai menjadi langkah penting menghadirkan keadilan sejarah sekaligus memperkuat hubungan kedua negara melalui jalur kebudayaan.

Dalam seminar tersebut, Duta Besar Belanda untuk Indonesia Marc Gerritsen melalui sambungan video menyebut hubungan Indonesia dan Belanda kini tidak hanya bertumpu pada sejarah, tetapi juga pendidikan dan kebudayaan.

Pemerintah berharap peringatan 100 Tahun Jam Gadang tidak berhenti sebagai agenda seremonial, melainkan menjadi momentum memperkuat kesadaran sejarah sekaligus mengangkat kembali peran Bukittinggi sebagai salah satu kota paling penting dalam perjalanan Republik Indonesia. (Wilson)

About the Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

About the Author

Easy WordPress Websites Builder: Versatile Demos for Blogs, News, eCommerce and More – One-Click Import, No Coding! 1000+ Ready-made Templates for Stunning Newspaper, Magazine, Blog, and Publishing Websites.

BlockSpare — News, Magazine and Blog Addons for (Gutenberg) Block Editor

Search the Archives

Access over the years of investigative journalism and breaking reports