JAKARTA— Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia angkat bicara soal kemungkinan harga BBM nonsubsidi turun pada bulan depan, seiring tren penurunan harga minyak mentah dunia belakangan ini. Bahlil meminta publik menunggu keputusan pemerintah terkait harga BBM nonsubsidi.
“Kita lihat aja teman-teman media. Teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, 2 bulan lebih hampir 3 bulan kan enggak kita naikkan. Masa baru naik 2 minggu atau 3 minggu ya? Teman-teman sudah tanya itu. Kenapa waktu kemarin kok tidak tanya, enggak diturunkan?” ujar Bahlil ketika ditanya soal apakah harga BBM nonsubsidi bisa turun bulan depan, Senin (29/6/2026).
Sebagai informasi, kontrak minyak mentah Brent naik 52 sen, atau 0,672%, menjadi US$ 72,51 per barel pada perdagangan hari ini. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS berada di US$ 69,94 per barel, naik 71 sen, atau 1,03%.
Adapun pada pekan lalu, minyak mentah Brent turun 10,6%, penurunan mingguan ini yang ketiga kali sejak perdamaian AS dan Iran disepakati. Penurunan juga terjadi setelah pengiriman minyak mentah melalui selat tersebut mengalami kenaikan pekan lalu ke level tertinggi sejak konflik yang terjadi sejak bulan Februari.
Sebelumnya, Komisaris Utama PT Pertamina (Persero), Mochamad Iriawan, mendorong seluruh jajaran direksi perusahaan untuk segera mempersiapkan langkah penurunan harga BBM nonsubsidi secara bertahap mulai awal Juli 2026. Dorongan ini disampaikan menyusul tren penurunan harga minyak mentah dunia.
“Kami dari jajaran dewan komisaris mendorong direksi, manajemen (Pertamina) untuk segera menyesuaikan dengan harga minyak (mentah) dunia yang sudah mulai turun,” kata Iriawan seperti dikutip dari laporan Antara, Jumat (26/6/2026).
Untuk diketahui, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang kerap jadi patokan berada di level US$ 71,53 per barel pada perdagangan pagi ini. Sementara, harga acuan perdagangan minyak mentah Brent hari ini berada di level US$ 74,83 per barel.
Atas dasar inilah Iriawan mengatakan pihaknya akan melakukan diskusi lebih jauh dengan jajaran direksi Pertamina dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait potensi penyesuaian harga BBM nonsubsidi.
Di mana saat ini harga BBM ritel nonsubsidi untuk Pertamax (RON 92) sudah naik dari Rp 12.300 per liter menjadi Rp 16.250 per liter. Sementara itu, harga Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp 12.900 per liter menjadi Rp 17.000 per liter.
“Jadi kira-kira kami akan mendorong jajaran direksi untuk melakukan itu (penyesuaian harga BBM nonsubsidi). Yang pastinya nanti akan berkomunikasi dengan kemudian ESDM untuk bisa menurunkan harga minyak nanti,” ujar Iriawan.
Namun, ia menggarisbawahi penyesuaian harga BBM harus melewati sejumlah prosedur dan tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Sebab menurutnya formula evaluasi berkala yang diterapkan perseroan menjadi instrumen pelindung konsumen agar tidak terombang-ambing oleh volatilitas harga harian yang ekstrem.
“Ada prosedurnya ya, karena minyak yang sekarang ini proses (dari) bulan yang lalu, dengan harga yang lalu. Nah tentunya kalau turunnya kemarin, berapa hari yang lalu, kita akan menyesuaikan nanti,” kata Iriawan.
“Turunnya berapa (rupiah), nanti kita lihat ke depan. Tapi insya Allah, doakan, mudah-mudahan bisa turun sesuai dengan harapan masyarakat,” ujarnya menambahkan. (fa/fz)















