Bogor- (Jumat, 30 Januari 2026) Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti, lakukan kunjungan ke Bendung Katulampa, Kecamatan Bogor Timur, Kota Bogor. Dalam kunjungan ini Wamen Pekerjaan Umum bersama Kepala BBWS Ciliwung Cisadane David Partonggo Oloan Marpaung untuk memantau kondisi bendung menyusul curah hujan yang terus terjadi di wilayah DK Jakarta dan Bogor, Jawa Barat.
“Hari ini saya mengunjungi Bendung Katulampa karena melihat kondisi cuaca di DK Jakarta dan Bogor yang terus-menerus hujan. Saya selalu memantau kondisi di masing-masing bendung,” ucap Diana.
Diana juga sebelumnya meninjau kawasan Cengkareng, Jakarta Barat. Menurutnya, pemantauan dilakukan secara berjenjang untuk memastikan sistem pengendalian banjir berjalan optimal.
“Kemarin saya melihat kondisi di Cengkareng, dan hari ini saya ke Bendung Katulampa. Saat ini ketinggian air sekitar 60 sentimeter, artinya masih dalam status Siaga Empat,” jelasnya.
Saat ini meski masih dalam kondisi aman, Diana mengungkapkan bahwa pada hari sebelumnya debit air sempat meningkat hingga di atas Siaga Tiga. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya luapan air di wilayah Pejaten, Jakarta Selatan.
“Kemarin sempat di atas Siaga Tiga, akhirnya di daerah Pejaten terjadi luapan akibat pelepasan air. Karena itu saya ingin melihat langsung berapa debit air dan memastikan infrastruktur di sini masih berfungsi dengan baik,” katanya.
Kementerian Pekerjaan Umum memastikan Bendung Katulampa masih dalam kondisi aman dan seluruh petugas bersiaga penuh. Diana berharap cuaca di wilayah Jawa Barat segera membaik agar debit air tetap terkendali.
“Alhamdulillah, teman-teman di Bendung Katulampa siap siaga. Mudah-mudahan cuaca di Jawa Barat tidak hujan sehingga kondisi bisa tetap terkendali,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Diana juga menyinggung rencana lanjutan normalisasi Sungai Ciliwung di wilayah DKI Jakarta.
“Normalisasi Sungai Ciliwung memang harus dikerjakan. Kenapa masih terjadi banjir di Pejaten dan Pasar Minggu, karena masih ada beberapa bendung dan segmen sungai yang belum ditangani,” jelasnya.
Wamen Diana menyebutkan, dari total panjang Sungai Ciliwung sekitar 33 kilometer yang harus dinormalisasi, saat ini baru sekitar 16 kilometer yang telah dikerjakan. Sisanya, sepanjang 17 kilometer, masih dalam proses dan dikerjakan bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
“Kami tidak sendirian. Ini kerja bersama dengan Pemprov DKI Jakarta. Pembebasan lahan dilakukan oleh Pemprov DKI dan saat ini masih berjalan,” ungkap Diana.
Ia memastikan Kementerian PUPR telah menyiapkan anggaran untuk melanjutkan proyek normalisasi tersebut pada tahun 2026.
“Kami sudah siapkan anggaran di tahun 2026. Setelah pembebasan lahan selesai, kami akan langsung masuk tahap konstruksi. Mudah-mudahan berlanjut hingga 2027 dan rampung sekitar 2028,” ujarnya.

Untuk tahap awal normalisasi sepanjang 5,2 kilometer, anggaran yang disiapkan mencapai sekitar Rp400 miliar. “Kurang lebih anggarannya Rp400 miliar untuk tahap pertama sepanjang 5,2 kilometer, dan akan terus dilanjutkan seiring selesainya pembebasan lahan,” tegasnya.
Selain itu, Diana juga menyoroti kondisi infrastruktur Bendung Katulampa yang merupakan bangunan lama peninggalan era kolonial Belanda. Ia meminta agar dilakukan pengecekan ulang terhadap kekuatan bendung dan jembatan di sekitarnya.
“Bendung Katulampa ini sudah ada sejak zaman Belanda. Jembatan yang dulu gantung sekarang sudah dibeton, namun tetap saya minta kepada balai untuk dicek kembali,” jelas Diana.
Ia juga menyoroti aktivitas kendaraan, khususnya sepeda motor, yang melintas di atas bendung. Menurutnya, hal tersebut perlu dikaji lebih lanjut demi menjaga keamanan dan kekuatan infrastruktur.
“Saya khawatir jika kendaraan terus melintas, bisa mengganggu kekuatan bendung. Ke depan akan kita studi kemungkinan pemisahan jalur antara jembatan kendaraan dan jembatan khusus bendung,” katanya.
Meski demikian, Diana menegaskan bahwa kondisi Bendung Katulampa saat ini masih aman dan langkah-langkah tersebut bersifat antisipatif. “Saya khawatir jika kendaraan terus melintas, bisa mengganggu kekuatan bendung. Ke depan akan kita studi kemungkinan pemisahan jalur antara jembatan kendaraan dan jembatan khusus bendung,” tutupnya.(red)






