JAKARTA– Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Timur mengambil langkah cepat dengan menutup sementara akses pagar pembatas rel kereta api yang rusak di wilayah Pondok Kopi, Kecamatan Duren Sawit. Langkah ini dilakukan untuk menutup ‘celah’ yang kerap dimanfaatkan para pelaku tawuran sebagai jalur keluar-masuk lokasi bentrokan.
Lurah Pondok Kopi, Sandy Adamsyah, mengungkapkan bahwa penutupan sementara ini merupakan upaya antisipasi jangka pendek sembari menunggu perbaikan permanen dari pihak berwenang.
“Untuk sementara kami tutup sebagai langkah pencegahan, sembari terus berkoordinasi dengan PT Kereta Api Indonesia (KAI) agar segera dilakukan perbaikan secara permanen,” ujar Sandy saat ditemui di Jakarta, Jumat (24/7/2026).
Keputusan ini diambil setelah jajaran Kelurahan Pondok Kopi bersama Bhabinkamtibmas, Babinsa, Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), dan Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) meninjau langsung lokasi pagar yang jebol tersebut. Dari hasil penelusuran, celah di pagar rel tersebut disinyalir kuat menjadi jalur favorit para pelaku tawuran untuk melarikan diri atau menyusup ke lokasi aksi.
Sandy menjelaskan, insiden bentrokan yang terjadi di sepanjang Jalan I Gusti Ngurah Rai beberapa waktu lalu melibatkan kelompok remaja dari lintas wilayah, yakni gabungan warga Kelurahan Pulogebang, Penggilingan, dan Kecamatan Cakung (Jakarta Timur) yang bertikai dengan kelompok warga dari Kelurahan Bintara (Kota Bekasi).
“Kami terus memperketat pengawasan dan memperkuat langkah pencegahan tawuran di sepanjang kawasan Jalan I Gusti Ngurah Rai ini,” tegasnya.
Selain tindakan fisik di lapangan, pihak kelurahan juga telah berkoordinasi dengan Kepala Stasiun Klender Baru. Dalam waktu dekat, Pemkot Jaktim akan bersurat resmi kepada Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan guna mendorong percepatan perbaikan permanen pagar pembatas di sepanjang jalur rel Pondok Kopi.
Sebagai langkah antisipasi berkelanjutan, pemerintah setempat bersama aparat keamanan dan warga juga akan mendirikan posko pemantauan terpadu di titik-titik rawan.
“Nantinya akan dibuat jadwal piket bergilir yang melibatkan unsur pemerintah, TNI-Polri, ormas, dan warga sekitar. Kami juga mendorong koordinasi lintas daerah dengan Pemkot Bekasi, tokoh masyarakat, serta tokoh agama untuk menyisir akar masalah tawuran ini hingga tuntas,” tambah Sandy.
Sementara itu, Ketua LMK Pondok Kopi, Ega Harimurti, menegaskan bahwa para pelaku bentrokan mayoritas bukan berasal dari lingkungan setempat. Wilayah Pondok Kopi selama ini hanya dijadikan ‘arena’ atau tempat titik temu para pelaku.
“Kami sangat prihatin karena Pondok Kopi hanya dijadikan arena tawuran. Jangan sampai aksi destruktif ini memengaruhi anak-anak dan remaja di wilayah kami untuk ikut-ikutan,” ungkap Ega.
Ega menekankan bahwa penanganan aksi tawuran di wilayah perbatasan seperti Pondok Kopi dan Bekasi tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Sinergi lintas wilayah antara Pemprov DKI Jakarta, Pemkot Bekasi, aparat penegak hukum, hingga PT KAI menjadi kunci utama dalam menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat secara berkelanjutan.(fa/fza)













