Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyelesaikan pengerukan 8.000 meter kubik sedimen pada kantong lumpur Bendung Notog di Desa Pakulaut, Kecamatan Margasari, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah. Pekerjaan normalisasi dilakukan untuk menjaga kelancaran pasokan air bagi lahan pertanian yang sebelumnya mengalami sedimentasi sehingga mengurangi kapasitas tampungan dan berpotensi menghambat kelancaran aliran air menuju jaringan irigasi dengan luas layanan potensial mencapai 25.180 hektare.
Menteri Dody mengatakan keberadaan jaringan irigasi yang berfungsi baik menjadi faktor utama dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian. Oleh karena itu, Kementerian PU terus mempercepat rehabilitasi jaringan irigasi agar distribusi air menjangkau lahan pertanian secara merata, termasuk daerah yang selama ini mengalami keterbatasan layanan.
“Kementerian PU memastikan air yang ada di bendungan, bendung, dan sungai bisa mengalir ke sawah-sawah terjauh. Kami melakukan rehabilitasi daerah irigasi yang menjadi kewenangan pusat, provinsi, kabupaten, dan kota karena sudah ada Inpres Irigasi Nomor 2 Tahun 2025 yang memungkinkan kami mengerjakan irigasi kewenangan non Pemerintah Pusat,” kata Menteri Dody.
Plt. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana Indah Kusuma Hidayati mengatakan, peningkatan kapasitas aliran air pada Bendung Notog dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana dengan mengeruk kantong lumpur sepanjang sekitar 810 meter. Penanganan tersebut berhasil meningkatkan kapasitas aliran air untuk mendukung kebutuhan irigasi dari sebelumnya 12.550 liter per detik menjadi sekitar 35.072 liter per detik atau meningkat hingga 2,8 kali lipat.
“Peningkatan kapasitas ini diharapkan memperkuat kemampuan sistem irigasi dalam mengalirkan air menuju lahan pertanian dengan luas layanan potensial mencapai 25.180 hektare. Diharapkan peningkatan layanan irigasi tersebut memberikan manfaat bagi 9 kecamatan di Kabupaten Tegal, termasuk enam kelompok tani dengan total 320 petani,” terang Indah.
Bendung Notog membendung Sungai Pemali dengan sistem irigasi yang didukung 1 saluran primer dan 33 saluran sekunder untuk menyalurkan air ke area persawahan. Kelancaran distribusi air menjadi salah satu faktor penting dalam mendukung aktivitas pertanian, menjaga produktivitas lahan, serta memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Tegal maupun Brebes.
Selain memperbaiki infrastruktur di Bendung Notog, Kementerian PU melalui BBWS Pemali Juana juga melakukan penanganan pada jaringan irigasi di wilayah hilir, salah satunya melalui normalisasi Saluran Sekunder Wanasari di Desa Rengaspendawa, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes. Saluran ini merupakan bagian dari DI Pemali Bawah yang memperoleh pasokan air dari Bendung Notog.
Normalisasi dilakukan pada jaringan Wanasari 1 hingga Wanasari 3 sepanjang sekitar 3,2 kilometer dengan mengangkat 850 meter kubik sedimen yang menghambat aliran. Setelah penanganan, debit air meningkat dari 38,5 liter per detik menjadi 162 liter per detik.
Peningkatan tersebut diharapkan memperlancar distribusi air untuk memenuhi kebutuhan irigasi bagi 280 hektare lahan persawahan yang menjadi prioritas penanganan dari total luas layanan DI Pemali Bawah sekitar 1.500 hektare. Dengan aliran air yang lebih optimal, diharapkan juga memberikan manfaat bagi 285 petani yang tergabung dalam 4 kelompok tani di Desa Rengaspendawa.
Melalui pemeliharaan Bendung Notog dan jaringan irigasi di wilayah hilir, Kementerian PU terus menjaga fungsi infrastruktur sumber daya air agar distribusi air dapat berjalan lebih optimal hingga ke lahan pertanian. Upaya ini menjadi bagian dari dukungan pemerintah dalam menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian, meningkatkan produktivitas petani, dan memperkuat ketahanan pangan. (LR)













