Beijing – Pemerintah China menyatakan bahwa mencegah kembalinya pertempuran di Timur Tengah menjadi prioritas utama dalam upaya diplomatik dengan negara-negara di kawasan tersebut. Langkah ini diambil menyusul peningkatan ketegangan setelah adanya ancaman baru yang dilontarkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Iran.
“Prioritas utamanya adalah mencegah berlanjutnya permusuhan di Timur Tengah, yang akan membawa bencana bagi penduduk di kawasan tersebut,” ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Rabu (4/11/2026).
Mao Ning menjelaskan bahwa Beijing mendukung Iran dan AS untuk menyelesaikan sengketa melalui jalur negosiasi. Selain itu, China juga mendorong tercapainya penyelesaian politik untuk masalah di Yaman serta membantu pencarian solusi komprehensif terkait pembukaan Selat Hormuz.
Sebagai salah satu mitra ekonomi utama Iran, Pemerintah China telah menggelar serangkaian pertemuan di Beijing pada Senin (2/11/2026) bersama para pejabat dari Iran, Oman, dan Arab Saudi untuk mendesak semua pihak kembali ke meja perundingan.
Pada pekan yang sama, Presiden China Xi Jinping mengadakan pembicaraan bilateral dengan Sultan Oman di Beijing. Dalam pertemuan tersebut, Presiden Xi memperingatkan agar kawasan Timur Tengah tidak dijadikan sebagai arena persaingan antarnegara besar.
Sebagai langkah lanjutan, Kementerian Luar Negeri China mengonfirmasi akan mengutus perwakilan khusus untuk Timur Tengah pada akhir bulan ini. Perwakilan tersebut dijadwalkan mengunjungi Iran, Oman, dan Arab Saudi guna melakukan diplomasi ulang-alik (shuttle diplomacy) demi mendorong pembicaraan damai dan meredakan ketegangan di kawasan. (IB)













