Menteri Dody Targetkan Jembatan Kr. Tingkeum dan Teupin Mane Fungsional Akhir Agustus 2026

27cf8161 f7ea 4e98 beae eb92022c312d

Aceh – Kementerian Pekerjaan Umum (PU) terus mempercepat pembangunan permanen Jembatan Krueng (Kr.) Tingkeum dan Jembatan Teupin Mane di Kabupaten Bireuen, Provinsi Aceh.

Kedua jembatan pada ruas strategis nasional penghubung Medan–Aceh tersebut ditargetkan fungsional pada akhir Agustus 2026 guna memulihkan konektivitas, memperlancar distribusi logistik, dan mendukung percepatan pemulihan ekonomi masyarakat pascabencana.

Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan pekerjaan pembangunan Jembatan Teupin Mane masih berjalan sesuai jadwal dan ditargetkan dapat fungsional pada akhir Agustus 2026.

“Pekerjaan masih sesuai progres dan sesuai jadwal awal. Insya Allah akhir Agustus 2026 bisa selesai dan fungsional. Kami berharap cuaca terus mendukung sehingga pekerjaan dapat berjalan maksimal,” kata Menteri Dody saat meninjau kedua lokasi jembatan tersebut, Rabu (29/7).

Menteri Dody menambahkan hingga saat ini pelaksanaan pekerjaan tidak menghadapi kendala teknis yang berarti dan kondisi cuaca selama musim kemarau cukup mendukung percepatan konstruksi.

“Sejauh ini cuaca masih bersahabat. Harapannya pekerjaan bisa lebih cepat sehingga konektivitas pada ruas utama Medan–Aceh dapat segera pulih secara optimal,” ujar Menteri Dody.

Penanganan permanen kedua jembatan dilakukan untuk meningkatkan keandalan infrastruktur jalan nasional di Aceh sekaligus memastikan layanan transportasi bagi masyarakat kembali berjalan normal setelah terdampak bencana.

Untuk Jembatan Kr. Tingkeum di Kabupaten Bireuen, penanganan permanen dilakukan melalui pembangunan duplikasi jembatan sepanjang 149,7 meter dengan nilai kontrak Rp107,5 miliar. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Adhi Karya dengan progres fisik mencapai 74,46% per 29 Juli 2026.

Sementara itu, Jembatan Teupin Mane dibangun dengan struktur rangka baja atas sepanjang 80 meter + 80 meter dan lebar 12 meter. Jembatan ini memiliki satu unit pier dengan pondasi bored pile serta dilengkapi proteksi oprit menggunakan soldier pile.

Melalui percepatan penyelesaian kedua jembatan tersebut, Kementerian PU menegaskan komitmennya melalui PU 608 untuk mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascabencana agar manfaat pembangunan segera dirasakan masyarakat melalui pulihnya konektivitas, kelancaran distribusi barang, serta meningkatnya aktivitas ekonomi di koridor utama Medan–Aceh. (LR)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *